“IKHLAS”

IMG-20140131-WA006

Bersama Oce Kojiro

Jum’at 31 Januari 2014, adalah hari yang sangat berkesan bagiku, dimana aku dapat belajar lebih banyak memaknai hidup dan kehidupan. Belajar mengenai keikhlasan dalam bingkai berbagi, semangat dalam menjalani hidup, tidak berkeluh kesah, dan mengisinya dengan penuh semangat untuk berbagi dengan sesama penyintas Leukimia.

Yah, pada hari itu aku berkesempatan mengunjungi “saudara”, yang tidak aku kenal sebelumnya. Kami kenal melalui blognya yang sudah “mendunia” (menurut saya), karena dengan mudahnya kita dapat masuk ke link blognya hanya dengan mengetik hal-hal yang berkaitan dengan LEUKIMIA.
Melalui pesan singkat di WA (bukan promosi lho), dia memberikan alamat lengkap beserta arahan-arahannya untuk naik angkutan umum. Maklum saat ini saya belum memiliki mobil sendiri, jadi kemana-mana harus rela untuk naik mobil bersama-sama yang lainnya (ngangkot.com).

Singkat cerita sampailah aku disana, tepat 15 menit sebelum shalat Jum’at dimulai.
Kami sempat mengobrol beberapa saat, sebelum akhirnya aku pamit untuk shalat Jum’at bersama putra sulungnya. Pada saat itu, aku melihat sendiri kondisi sahabatku itu tidak memungkinkan untuk shalat Jum’at.
Sepulang shalat Jum’at, sang istri yang sangat setia menemaninya, mengajak aku untuk makan siang bersama. Terlihat menu sehat sederhana yang sangat menggugah selera. Tanpa malu-malu, aku ambil nasi, lauk pauk, beserta sayurnya.
Nyami……nikmat sekali makan siang kali ini, tapa ragu aku mengambil tambahan nasi dan lauknya lagi.

Setelah makan, kami kembali keruang tamu. Disanalah kita akhirnya bertukar cerita dan pengalamannya masing-masing, ketika kami harus dihadapkan dengan penyakit yang mematikan ini.
Dari hasil pembicaraan kami, akhirnya aku dapat simpulkan bahwa, terimalah sesuatu yang sangat kita tidak harapkan sekalipun dengan penuh keikhlasan. Berbagilah dengan penuh keihklasan, tanpa mengharapkan pujian, materi, ataupun bentuk penghargaan lainnya.
“Disanalah”,  kebahagiaan hakiki kita sebenarnya, ketika kita sudah bisa mempraktekan satu kata yang sangat mudah diucapkan, tetapi terkadang sangat sulit untuk dilakukan. Apakah kata itu?, kata tersebut adalah “IKHLAS”

Terima kasih sahabat, atas kesempatan yang telah engkau berikan kepadaku.
Aku dapat belajar banyak dengan waktu yang sangat singkat. Meskipun ada satu yang aku lupa untuk tanyakan yaitu, “praktek mengolah biyang kunyit”.
Semoga aku masih diberikan kesempatan untuk dapat mengunjungimu dilain waktu sehingga aku dapat belajar lebih banyak dari dirimu. Amiiiin,…

Ps : Tulisan ini aku persembahkan untuk seorang sahabatku, “OCEKOJIRO”

Iklan
Kutipan | Posted on by | 2 Komentar

Tips Mengatasi Susah Tidur (Insomnia)

Krik, krik, krik……suara jangkrik nyaring sekali terdengar diluar sana, menandakan malam masih setia menemaniku yang masih belum bisa memejamkan mata. Pukul 01.00 tepat saat aku mulai memulai menuliskan apa yang kurasakan saat ini.

Susah tidur, adalah keluhanku yang lain selain pusing dan cepat lelah. Untuk yg satu ini (susah tidur) adalah hal yg sangat mengganggu. Bagaimana tidak, tidur merupakan salah satu kebutuhan tubuh kita untuk beristirahat dan meregenerasi sel-sel dalam tubuh. Sebagai seorang penyintas Leukimia, aku sadar betul akan arti pentingnya istirahat bagi tubuh. Banyak faktor penyebabnya, bisa rasa sakit, sesak nafas yg diakibatkan pembengkakan limpa, jantung berdebar, dan satu lagi yang sering kita tidak sadari, membawa beban dalam pikiran ketika hendak tidur.

Teringat pesan seorang sahabat, ketika kita berada didalam posisi tersebut, cobalah untuk lebih tenang dan berdo’a. Cobalah buat sebuah tulisan, “itulah pesannya yang lain”. Akhirnya aku putuskan untuk membuka netbook untuk menuliskan apa yang aku rasakan saat ini.

Alhamdulillah, jarum jam menunjukan pukul 02.15. Mata sudah terasa berat, tdk lama setelah itu akhirnya aku pun tertidur. Terima kasih sahabat atas saran dan masukanmu selama ini.

Dipublikasi di Tak Berkategori | 4 Komentar

TULANG BELAKANGKU “DIBOR”

          “Pak Bani main dulu yah”, itulah sepenggal kalimat yang dilontarkan si sulung kepadaku yang sedang duduk termenung didepan rumah. Sudah tiga hari aku tidak masuk kerja sejak flu berat dan batuk hebat mendera yang membuat kondisiku jatuh lagi.

Dari kejauhan, aku melihat dia riang gembira bermain kelereng dengan teman sebayanya dihalaman rumah tetangga, yang memiliki lahan cukup luas sambil sesekali berteriak , “kena”.  Tidak terasa airmata ini mengembang dipelupuk mata, mengingat kondisku yang sudah tidak lagi prima.

Masih segar dalam ingatanku ketika dokter menjatuhkan vonisnya, masih segar ingatanku ketika proses persiapan BMP tepat didepanku. Kain persegi berwarna hiju yang memiliki bolong di tengahnya, larutan betadin yang dituang kedalam tempayan kecil dari stainless, jarum suntik beserta obat biusnya, spet suntik besar untuk mengambil sumsumnya dan yang paling utama “Bor” kecil dengan ujung yang sangat tajam kelihatannya. Ada beberapa botol kecil cairan serta beberapa alat yang bentuknya aneh yang tidak aku ketahui namanya.

Dokter memberikan beberapa instruksi kepada suster yang mendampinginya kala persiapan dilakukan. Ketika semuanya sudah siap dokter berkata, “Tahan ya Pak”.
Dimulailah pengambilan sum-sum belakang dipinggul sebelah kananku.

Wah…”luar biasa” rasanya, sulit untuk mengambarkan rasa sakit yang dirasakan ketika “bor kecil” mengenai dan mulai berputar mengenai tulang pinggulku. BMP (Bone Marrow Puncture) itulah istilah kedokterannya.

LGK (Leukimia Granulositik Kronik) itulah kesimpulan dari hasil BMP ku, sekaligus menjadi teman yang tak ku undang dan harapkan. Tetapi aku harus terima hal ini dengan ikhlas, berharap ada “sesuatu yang indah” dibalik ini semua

Ah,……mengapa aku mesti bingung dan bersedih. Aku masih bisa bernafas, aku masih bisa bekerja untuk memenuhi kewajiban terhadap istri dan kedua anaku dan tentunya Alloh SWT, Tuhanku.

Terinspirasi dari tulisan seorang sahabat mengenai “Jam dinding” yang berdetak memenuhi kewajibannya dikarenakan adanya batrei didalamnya, begitupulalah Aku.

ALLOH SWT telah menganugerahkan “baterai” (nafas) yang aku harus syukuri.

Dipublikasi di Tak Berkategori | 4 Komentar

The Silent Killer

Kaku rasanya jari jemari ini ketika memulai mengetikan kata demi kata untuk mencoba menggambarkan apa yang aku rasakan selama ini, bukan untuk ditangisi, bukan untuk diratapi, bukan untuk disesali keputusan-NYA dengan menjatuhkan pilihannya kepada aku dan bukan pula untuk meminta dikasihani. Tetapi hadirnya tulisan ini bermaksud untuk sekedar berbagi bagi siapa saja yang mampir dan membaca blog yang sangat sederhana ini, dengan harapan mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi sebuah deteksi dini untuk sesuatu yang dijuluki “The Silent Killer” ini.jajang1

Sebelumnya semuanya berjalan sangat indah seakan-akan aku akan hidup selamanya. Rutinitas bekerja disalah satu perusahaan favorit di wilayah Balaraja – Tangerang yang ditempuh kurang lebih 30 menit perjalanan dengan menggunakan sepeda motor kesayangan, terasa sangat mengasyikan dan penuh dengan semangat. Mendaki gunung, Camping, Touring adalah aktifitas yang selalu tidak dilewatkan setiap even itu digelar oleh para penggiatnya diperusahaan kami. Sangat indah, penuh semangat dan penuh warna itulah yang bisa aku gambarkan dengan sedikit kata-kata untuk mewakilinya.

Mendekati penghujung tahun 2011, tepatnya sekitar bulan Agustus ada beberapa keanehan yang muncul didalam diri aku. Badan mulai menyusut beratnya, tampang yang sangar dan besar sudah mulai tak Nampak. Rasa capai yang sering kali mendera setiap melakukan kegiatan, sakit pada tulang pinggul sebelah kiri, wajah pucat dan tidak bersemangat mengiringi disetiap harinya.

Dokter perusahaan dengan sigap meminta aku untuk kontrol dan berobat di Rumah Sakit Qadr memastikan apa sebenarnya penyakit yang aku keluhkan. Salah satu dokter terbaik dirumah sakit itu (melihat antrean yang ada), menjatuhkan vonis “Anemia” setelah memeriksa. Posisi HB waktu itu sekitar 10 dan lekositnya 14.000. Beberapa kali aku melakukan kontrol vonis “Anemia” tetap melekat sampai pada suatu ketika dokter tersebut mengatakan, “Pak, kalau bulan depan kontrol hasilnya masih seperti ini kita akan lakukan pengambilan tulang sum-sum Bapak” sambil mencatatkan semua analisanya kedalam rekam medis.

Saat itu merupakan kontrol terakhir di RS Qadr dikarenakan kecurigaan dokter perusahaan melihat HB yang cenderung rendah dan Lekosit yang cenderung meninggi. Tanpa memberikan keterangan yang jelas, beliau (dokter perusahaan) meminta aku untuk berobat ke Rumah Sakit Usada Insani untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis dalam “Terbaik” yang ada di rumah sakit tersebut. Hari yang ditentukan akhirnya datang, berangkatlah ke dokter dirumah sakit itu untuk mencari second opinion mengenai penyakit yang diderita. Sambil menunjukan hasil lab sebelumnya kepada dokter , aku memberanikan diri bertanya mengenai penyakitnya. Dokter tersebut tidak berani untuk mengambil keputusan melainkan memberikan secarik rujukan lab untuk memeriksa darah ke lab. Keluar dari ruang praktek kepala terasa berat dan sangat lemas ,akhirnya aku duduk disalah satu sudut dekat Lab untuk sekedar beristirahat. Ndilalah (kebetulan) ada salah satu rekan kerja Reny namanya sedang berobat pula dirumah sakit tersebut. Diceritakanlah keluhan yang aku rasakan, pada akhirnya diputuskan masuk UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.jajang2

Saat itu hasil pemeriksaan dokter UGD memutuskan aku untuk dirawat, semula niatnya hanya untuk kontrol tetapi apa mau dikata aku harus menjalani perawatan. Singkat kata disanalah segalanya berawal, setelah memeriksa hasil lab, dokter memutuskan untuk “mengebor tulang belakang” atau disebut BMP (Bone Marrow Puncture). Dokter sebelumnya sudah memberitahukan bahwa ada kelebihan darah putih dalam kandungan darah tetapi beliau hanya mengatakan jangan khawatir itu sudah biasa. Memasuki hari ketiga perawatan dokter belum melakukan BMP dikarenakan gula dalam darah aku masih relative tinggi dan dokter konsen untuk turunkan itu dulu. Momen diwaktu itu akhirnya aku gunakan untuk menanyakan kesimpulan sementara mengenai penyakitnya dan dokter menyatakan bahwa aku kemungkinan mengidap Leukimia/kanker darah tetapi untuk pastinya beliau menunggu hasil BMP yang akan dilakukan. Hari keempat akhirnya BMP dilaksanakan, rasanya nano nano antara sakit dan linu saat bor memasuki tulang.

2 hari setelah BMP aku diperbolehkan pulang sambil menunggu hasilnya dari RS Kanker Dharmais selama satu minggu. Setelah beberapa hari menunggu, ternyata hasilnya sangat mengejutkan. Aku dinyatakan positif LGK (Leukimia Granulositik Kronik) atau CML (Cronic Myloid Leukimia). Jedar,…bagaai petir disiang hari mendengar vonis tersebut, shock, lemas, tidak bersemangat dan hal-hal negative lainnya berkecamuk didalam hati ini seakan-akan besok aku akan mati. Betapapun berat dirasakan, pada akhirnya kami sekeluarga dapat menerima kenyataan tersebut yang pada awal-awal vonis jatuh seperti hilang segalanya.

Beruntung aku memiliki seorang wanita tegar mendampingi , anak-anak yang tumbuh ceria serta keluarga besar yang selalu mendukung dan memberikan support nya. Terima kasih Bidadariku (istri) serta kedua anaku Bani dan Hany atas support dan senyuman kalian semua dalam mengisi hari-hariku yang indah dengan Leukimia.

Terima kasih yang tak terhingga juga aku sampaikan kepada fasilitator “Forum Leukimia” Oce Kojiro yang sudah membuat ruang bagi para keluarga maupun penyintasnya untuk sharing dan mendapatkan informasi seputar Kanker dan atas persembahannya berupa blog yang sangat indah ini sebagai ruang untuk menuangkan tulisan-tulisan aku yang masih dalam tahap belajar. Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk menghadapi semuanya dan berharap keajaiban berupa Kesembuhan dari ALLOH SWT.

Amiiin.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tag , | 16 Komentar

Indahnya Berbagi

Image

Pada tanggal 18 Desember 2013 yang lalu,,, aku mulai merasakan betapa indahnya berbagi, meskipun pada saat itu yang bisa aku bagikan kepada sahabat kecilku Naya hanyalah sebuah semangat.

Semoga pada kesempatan yang lain aku bisa lebih banyak berbagi kepada saudara saudaraku yang lain dan tentunya mereka yang sedang diuji oleh Allah SWT dengan penyakit LEUKEMIA.

Demikian posting pertamaku pada blog sederhana ini dan semoga blog gratisan yang juga hadiah dari seorang sahabat ini bisa menjadi tempatku untuk sekedar menuliskan pengalaman pengalamanku hidup dengan penyakit yang mendapat julukan ‘The Silent Killer’ ini, dan semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT, amin.

Wassalam
Tangerang 8 Januari 2014

Jajang Jarkoni

Dipublikasi di Tak Berkategori | 7 Komentar